Showing posts with label silence. Show all posts
Showing posts with label silence. Show all posts

Tuesday, April 11, 2006

Izinkan Aku Jatuh Cinta


Sudah lama sekali sejak kurasakan kesejukan-kesejukan khas itu dalam pertemuan kita. I miss it. I really do.

Aku rindu dialog takzim yang mengirim getar-getar haru ke setiap pucuk syarafku. Aku bercerita, bertanya, juga meminta. Kau lalu menjawabku dengan banyak cara. Selalu kreatif, sehingga jawaban-jawaban-Mu seringkali datang tak terduga.

Ntah apa yang saat ini membuatku merasa pantas mendiamkan-Mu.
Ntah kenapa saat ini dialog-dialog kita kulakukan terburu-buru.
Ntah bagaimana saat ini aku bisa lupa lezatnya rasa cinta itu.

Aku tau: Kau pun rindu.

Cinta ... izinkan aku kembali.
Izinkan aku kembali jatuh cinta.
Kali ini: semoga untuk selamanya.

Where Do I Put You?


Dear God ...
Where did I put You in my heart?
How could I laugh after neglecting your right?
What should I say, to answer You, if I die tonight?

Dear God ...
Honestly, where do I put You in my heart?

Tuesday, October 04, 2005

Tuhan ... Cintaku Merindu

Tuhan
ku jatuh cinta
bukan karena
bukan pula walau sekiranya
cintaku sederhana

Tuhan
ku sungguh rindu
bukan bujuk rayu
bukan pula peluk cium itu
rinduku tak tabu

Tuhan
dalam kesederhanaan cinta aku tergugu
dalam kemurnian rindu aku rasa pilu

Tuhan
cintaku merindu
melampaui batas pahamku

{1 jam pertama, di hari pertama Ramadhan, 1426}

Sunday, September 25, 2005

Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh?

Ada Pangeran. Ada Putri. Dan ada Bintang Jatuh.
Pangeran bungsu dari kerajaan langit; bukan sang Putri.
Putri sulung dari galaksi tak bernama; bukan sang Ksatria.
Bintang Jatuh yang telah lewati banyak hal tak pasti; pun ini.

Hmm ... ini cerita yang berbeda.
Tidak. Tidak akan seperti Supernova.

Tokoh utamanya bukan si Pangeran, ia terlalu rapuh.
Bukan pula si Putri, ia terlalu gaduh.
Biar sajalah ini tentang si Bintang Jatuh.

Bintang Jatuh yang akan kubuat terus melesat.
Tak apa sempat tertatih, oleng, atau tersendat.
Tapi teruslah melesat,
tak usah mendarat,
tak usah menjerat,
tak usah jadi keparat.

Mungkin sisamu hanya kumpulan debu.
Namun, takkan teringkari, senantiasa indah dan syahdu.
Apalagi jika kita ingat banyaknya harapan, meski semu,
yang kau tinggalkan bagi para bodoh itu.

Tak apa kau sendiri, itu membuatmu mengerti.
Tak apa kau terluka, kelak akan terbiasa.

Melesatlah kembali.
Bersinar, berpijar, lewati ordinat tak terprediksi.
Semesta takkan sama tanpamu.
Tanpa perlu mereka mengaku.
Tanpa perlu kau tau.

Aku disini. Akan terus disini. Mengawasi.